How I Describe My Mom - HeartLab #01
Ibuk ... orang yang enggak pernah berani buat kujadikan role model. Tapi beliau tetap panutan. Sayangnya ... Aku nggak cukup kuat buat sesabar itu, nggak cukup kuat untuk berkorban sebanyak itu, nggak cukup baik untuk dipercaya banyak orang, nggak cukup kuat untuk menerima beban dari harapan orang tua seorang diri.
Aku sendiri, anak tunggal, aku harapan satu-satunya. Demi Tuhan, aku cemas akan masa depan. Aku takut akan eksepektasi yang dilimpahkan padaku, entah sebesar apapun itu.
Aku dan Ibuk punya kehidupan yang berbeda, tumbuh di masa yang berbeda. Ada prinsip yang sulit untuk diselaraskan. Kami bersinggungan dengan banyak hal yang bertolak belakang.
Termasuk tentang mimpiku. Untuk saat ini, aku tidak memiliki keberanian menceritakan mimpi-mimpiku padanya. Bagaimana keinginanku menjangkau dunia melalui ruangan kecil dan tulisan-tulisan. Sudah sejak lama aku menyimpannya untuk diriku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan bahwa mimpiku tidak selalu tentangnya, mimpiku tidak selalu tentang apa yang sudah ia lihat lebih dulu tentang dunia. Mimpiku tidak selalu tentang apa yang ia sebut dengan realita.
Mimpiku adalah tentang bagaimana caraku untuk hidup, bukan sehari atau dua hari saja, melainkan esok, nanti, dan seterusnya, menikmasti sisa-sisa masa muda yang kuhabiskan dengan melakukan hal-hal yang keperjuangkan. Itu saja.
Ibuk tidak pernah mengarahkanku ke hal-hal yang buruk. Demi Tuhan, tidak pernah. Ibuk selalu memintaku melakukan hal-hal yang terpuji dan bermanfaat bagi banyak orang. Tapi itu selalu bukan tentang mimpiku, bukan hal yang ingin kujalani di sisa masa mudaku.
Aku takut, aku cemas, aku khawatir. Terkadang ingin menghilang saja rasanya, ingin lenyap saja. Ada bagian diriku yang tidak bisa ia terima. Aku ingin berteriak lantang bahwa semua manusia tidak harus sama, tapi buat apa? Egois namanya, kalau aku memaksakan prinsipku agar diterima oleh Ibuk, sama seperti aku yang tidak bisa menerima prinsipnya begitu saja.
***
Untuk kalian yang pernah bersinggungan dengan Ibu kalian tentang rencana masa depan dan mimpi, cukup dengarkan Ibu kita. Buat Ibu kita paham bahwa kita juga sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Terkadang mereka tidak butuh uraian rencana dan janji-janji kita, mereka hanya perlu memastikan bahwa kita baik-baik saja, bahwa kita tidak akan terluka.
Sedangkan kita merasa tidak apa-apa merasa jatuh dan terluka, karena itu bagian dari perjalanan kita. Untuk itu, tunjukan saja. Tunjukan bahwa kita sudah melewati tahap-tahap untuk mencapai tujuan kita. Tunjukan saja bahwa kita bisa. Bagaimanapun caranya. Tunjukkan.
***
Zulfaragraf, pemilik nama pena ini adalah seorang pemimpi yang berusaha menjangkau dunia dari kamar kecilnya. Silahkan berteman dengan memfollow akun instagram dan twitter @zulfaragraf, ia juga suka bercerita di akun wattpad dengan nama pena @awankumulus, kunjungi saja https://www.wattpad.com/user/awankumulus
Terima kasih
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar