Puisi Awan Kumulus #02 - Membahas Bahasa
Mimpi
Tiba deru angin dan sayup-sayupnya
Dedaunan kering dan memutuskan untuk terjatuh
Di sisi lain dedaunan kering terombang-ambing dan tidak benar-benar ingin terjatuh
Seperti mimpi musim semiku yang menggantung setelah ditertawakan berkali-kali
Raut membiru, langit memburu
Hanya angin berkecamuk di musim penguat jemu
Terbaring, terkapar, melongo, tepar
Aku ingin bersuara tanpa bahasa dan isyarat
***
Seharusnya menjadi tempat dimana kita menjadi diri kita sendiri
Tapi aku tidak
Tawaku terpasung oleh belenggu yang menjadikanku enggan melakukannya
Sudut bibir mengerucut, tertahan oleh keinginan akan kebebasan
Mata yang seharusnya menajam layaknya mata kapak, malah menumpul sebelum terasah
Telinga seketika menjadi hutan rimba yang dipenuhi pepohonan tua, jauh akan bingar
Sementara malam pekat yang bertabur gemintang terasa hambar, seperti kopi tanpa gula yang mendingin.
(14 Agustus 2018)
Di Depan Rumah
Lihatlah
mereka, bertaburan di langit
Berhamburan seperti bergantung
Jika kamu melihatnya sebagai keindahan
Maka mereka adalah bintang
Jika kau melihatnya sebagai bintang
Mereka hanyalah benda angkasa
Berhamburan seperti bergantung
Jika kamu melihatnya sebagai keindahan
Maka mereka adalah bintang
Jika kau melihatnya sebagai bintang
Mereka hanyalah benda angkasa
***
Aku lelah
mecabut gulma yang terus tumbuh
Dalam hati ingin sekali kubakar seluruh padang rumput
Dalam hati ingin sekali kubakar seluruh padang rumput
***
Malu
Aku juga bisa malu pada katak yang berenang
dalam genangan air hujan semalam
sambil memainkan angklung malam penghantar hujannya,
sementara aku tenggelam dalam hujan yang mencuri malamku
untuk terus menari dalam lamunan dan gemercik kisah dalam dinginnya februari
Aku menunggu masa terindah dalam hidupku,
entah seperti apa akan berakhir,
sedinginkah itu?
Atau sehangat mentari pembuka gerbang fajar pukul enam pagi?
Sedang apakah pria yang kutemui di bulan Mei empat tahun lalu?
sambil memainkan angklung malam penghantar hujannya,
sementara aku tenggelam dalam hujan yang mencuri malamku
untuk terus menari dalam lamunan dan gemercik kisah dalam dinginnya februari
Aku menunggu masa terindah dalam hidupku,
entah seperti apa akan berakhir,
sedinginkah itu?
Atau sehangat mentari pembuka gerbang fajar pukul enam pagi?
Sedang apakah pria yang kutemui di bulan Mei empat tahun lalu?
(2019)
***
Membahas Bahasa
Adalah tentangmu yang tiada
Bahasaku dalam membahas bahasa
Tentangmu yang menyapaku dalam bahasa dengan tanpa kata dan isyarat
Daradadada
Seberapa pantaskah aku membuatmu berhenti
Bisakah jangan kembali
Adamu adalah tiada bagiku
Aku mengubur bahasa tentangmu
Dalam-dalam. Sedalam-dalamnya
Tentangmu yang menyapaku dalam bahasa dengan tanpa kata dan isyarat
Daradadada
Seberapa pantaskah aku membuatmu berhenti
Bisakah jangan kembali
Adamu adalah tiada bagiku
Aku mengubur bahasa tentangmu
Dalam-dalam. Sedalam-dalamnya
***
Zulfaragraf, pemilik nama pena ini adalah seorang pemimpi yang berusaha menjangkau dunia dari kamar kecilnya. Silahkan berteman dengan memfollow akun instagram dan twitter @zulfaragraf, ia juga suka bercerita di akun wattpad dengan nama pena @awankumulus, kunjungi saja https://www.wattpad.com/user/awankumulus
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar