Puisi Awan Kumulus #01 - Menjadi Gurun

 

 




Warna


Kepada pagi dan malam, rundungku adalah yang kesekian kalinya seiring desir pantai dari kejauhan yang di sana.

Rumus penghitung petang dan senja bersama pengikat cahaya dalam satu nada apakah itu tanda?

Warna hujan yang akan kugambarkan padamu dengan penuh bimbang nan gusar saling berebut makna dalam setiap tetesnya

Sementara seluruh rasa yang ada di dunia harus kulukiskan ke dalamnya dengan segera

Pada saat tanganku bermain dengan kuas dan warna, kesadaran tiba, menghampiri dan menyapa

Aku raut tanpa kepastian, mengombang-ambing dalam pelikku sendiri

Mana warna mana cahaya, keduanya beradu dalam kegelisahan pada dini hari, pagi, siang, petang hingga malam.

 

***


Aku Ingin


Aku ingin membungkus seluruh langit dunia

Berbalut atmosfer dan udara

Tapi bukan ranahku menggapainya

Andai saja seluruh radar di dunia ini dapat kubungkam

Dan kupijakan kakiku di mana saja aku ingin berada

Entah di ujung antartika kah itu atau di Segitiga bermuda

Aku ingin menjelajahi kahsmir, meraup hamparan hijaunya bersama mega jingga dengan sekaligus

Lalu kuhantam gurun sahara dengan apa yang ada di tanganku

Menanam sakuar di Bosnia

Hingga menebar Kamboja di Amsterdam

Membawa aquarius bertebaran di keringnya Juni

Membawa kumulus di awal musim kemarau

Menapakkan kaki di pusat dunia

Melaju di atas kereta tercepat di dunia

Aku ingin ingin melakukan semua yang tidak pernah kubisa

Aku ingin melakukan segalanya

Itu saja.

 

***

Sunyi

Sunyiku telah bernaung dalam kebisuan dan ratapan dalam masa yang cukup lama

Tak ubahnya rindu yang menghamba pada pertemuan pertama.

Dan firasat yang menjadi awal pertemuan kesunyian dan kerinduan.

Keinginan akan bingar,

Memburu dan mengarah pada seluruh suara yang membentang.

Irisan-irisan bayang yang tercecer di depan pelupuk,

Menebas segala pandang akan langit-langit kamar bernomor genap dan dinding kerapuhan.

Dinding-dinding yang berhati

Hati, Konon Diciptakan kosong untuk diisi, dihuni, dan ditempati.

Dan lalu menyadari apa gunanya kalimat yang dimulai dari kata “Betapa”

(3 Maret 2018)


 *** 


Rapuh


Kursi-kursi tanpa penyangga adalah wujud lain dari kerapuhan malam ini, angin dan segala ratapan yang ia lewatkan

tersimpul kepalsuan kodian dari ujung air mata yang terkibas kencang di atas loteng

Dan suara sedu sedan kembali mengecil

dalam diam, dalam bayang, dalam segala raut yang bergetar

Memar dan kelakar, namum benar

Sungguh bayang yang tak akan sanggup ia tewaskan

Keberatan yang ia bawa, tak sedikitpun mengabur

Malah membaur dalam gugur

Sementara semi menanti dalam sabur

Hanya lubang yang ia dapat ketahui,

bagaimana ia terjatuh dan mencari jalan keluar

Itulah sejatinya kejatuhan bangkit

(5 Mei 2018)

 

***


Menjadi Gurun

Air mataku membasahi bibir yang mengering

Seperti embun yang perlahan menghampiri gurun pasir

Tidak akan mengubah apapun dari pesisir

Yang dihuni ombang pasang

Air mataku membasai senyuman masam

Yang memudar sejak petang

Menghantarkan misteri dibalik perasaan rundung bergelimpangan

Aku benci pada prasangka yang memenjarakanku

Sayap-sayap indah yang kuimpikan tak bisa mengepak bebas, lepas, mengangkasa, mengudara

Sementara waktu terus berjalan

Yang setiap detiknya adalah kekejaman bagi kepolosan wal keluguan

Ah

Aku seketika adalah gurun

Oleh gulmaku yang telah mengering


*** 


Zulfaragraf, pemilik nama pena ini adalah seorang pemimpi yang berusaha menjangkau dunia dari kamar kecilnya. Silahkan berteman dengan memfollow akun instagram dan twitter @zulfaragraf, ia juga suka bercerita di akun wattpad dengan nama pena @awankumulus, kunjungi saja https://www.wattpad.com/user/awankumulus

Terima kasih


Komentar

Postingan Populer