Puisi Awan Kumulus #01 - Menjadi Gurun
Warna
Kepada pagi
dan malam, rundungku adalah yang kesekian kalinya seiring desir pantai dari
kejauhan yang di sana.
Rumus
penghitung petang dan senja bersama pengikat cahaya dalam satu nada apakah itu
tanda?
Warna hujan
yang akan kugambarkan padamu dengan penuh bimbang nan gusar saling berebut
makna dalam setiap tetesnya
Sementara
seluruh rasa yang ada di dunia harus kulukiskan ke dalamnya dengan segera
Pada saat
tanganku bermain dengan kuas dan warna, kesadaran tiba, menghampiri dan menyapa
Aku raut tanpa
kepastian, mengombang-ambing dalam pelikku sendiri
Mana warna
mana cahaya, keduanya beradu dalam kegelisahan pada dini hari, pagi, siang,
petang hingga malam.
Aku Ingin
Aku ingin membungkus seluruh langit
dunia
Berbalut atmosfer dan udara
Tapi bukan ranahku menggapainya
Andai saja seluruh radar di dunia
ini dapat kubungkam
Dan kupijakan kakiku di mana saja
aku ingin berada
Entah di ujung antartika kah itu
atau di Segitiga bermuda
Aku ingin menjelajahi kahsmir,
meraup hamparan hijaunya bersama mega jingga dengan sekaligus
Lalu kuhantam gurun sahara dengan
apa yang ada di tanganku
Menanam sakuar di Bosnia
Hingga menebar Kamboja di Amsterdam
Membawa aquarius bertebaran di
keringnya Juni
Membawa kumulus di awal musim
kemarau
Menapakkan kaki di pusat dunia
Melaju di atas kereta tercepat di
dunia
Aku ingin ingin melakukan semua
yang tidak pernah kubisa
Aku ingin melakukan segalanya
Itu saja.
Sunyi
Sunyiku telah
bernaung dalam kebisuan dan ratapan dalam masa yang cukup lama
Tak ubahnya
rindu yang menghamba pada pertemuan pertama.
Dan firasat
yang menjadi awal pertemuan kesunyian dan kerinduan.
Keinginan akan
bingar,
Memburu dan
mengarah pada seluruh suara yang membentang.
Irisan-irisan
bayang yang tercecer di depan pelupuk,
Menebas segala
pandang akan langit-langit kamar bernomor genap dan dinding kerapuhan.
Dinding-dinding
yang berhati
Hati, Konon
Diciptakan kosong untuk diisi, dihuni, dan ditempati.
Dan lalu
menyadari apa gunanya kalimat yang dimulai dari kata “Betapa”
(3 Maret 2018)
Rapuh
Kursi-kursi tanpa penyangga adalah wujud lain
dari kerapuhan malam ini, angin dan segala ratapan yang ia lewatkan
tersimpul kepalsuan kodian dari ujung air mata
yang terkibas kencang di atas loteng
Dan suara sedu sedan kembali mengecil
dalam diam, dalam bayang, dalam segala raut
yang bergetar
Memar dan kelakar, namum benar
Sungguh bayang yang tak akan sanggup ia
tewaskan
Keberatan yang ia bawa, tak sedikitpun mengabur
Malah membaur dalam gugur
Sementara semi menanti dalam sabur
Hanya lubang yang ia dapat ketahui,
bagaimana ia terjatuh dan mencari jalan keluar
Itulah sejatinya kejatuhan bangkit
(5 Mei 2018)
Menjadi Gurun
Air mataku membasahi bibir yang mengering
Seperti embun yang perlahan menghampiri gurun
pasir
Tidak akan mengubah apapun dari pesisir
Yang dihuni ombang pasang
Air mataku membasai senyuman masam
Yang memudar sejak petang
Menghantarkan misteri dibalik perasaan rundung
bergelimpangan
Aku benci pada prasangka yang memenjarakanku
Sayap-sayap indah yang kuimpikan tak bisa
mengepak bebas, lepas, mengangkasa, mengudara
Sementara waktu terus berjalan
Yang setiap detiknya adalah kekejaman bagi
kepolosan wal keluguan
Ah
Aku seketika adalah gurun
Oleh gulmaku yang telah mengering
***
Zulfaragraf, pemilik nama pena ini adalah seorang pemimpi yang
berusaha menjangkau dunia dari kamar kecilnya. Silahkan berteman dengan
memfollow akun instagram dan twitter @zulfaragraf, ia juga suka bercerita di akun wattpad
dengan nama pena @awankumulus, kunjungi saja https://www.wattpad.com/user/awankumulus
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar